Postingan

Membenahi Fase

Gambar
          Kuhirup udara pagi yang menyejukkan setelah membuka jendela kamar. Tepat di baliknya berdiri kokoh bangunan putih berkubah dengan arsitektur yang indah dan ukiran dinding dengan lafadz Allah. “Tempat yang berbeda lagi”, ucapku di dalam hati. Aku berdiri mengamati dengan saksama setiap bangunan yang berdiri di sekitar tempat yang aku huni saat ini, lalu beralih mengamati pergerakan awan yang tidak terlihat sama sekali karena tertutup oleh kabut di pagi hari.                      ||Baca juga: Bukan Santri Tapi Jadi Musyrifah      Entah kenapa menatap jendela dan awan adalah rutinitas yang aku sukai sejak kecil. Bukan untuk membuang-buang waktu tetapi suatu kebutuhan bagiku karena dengannya dapat rehat sejenak dari segala kerumitan yang dihadapi, mengambil waktu untuk bisa mengenali perasaan dan pikiran yang tersimpan. Belajar berdamai dan beradaptasi dengan banyak karakt...

Tidak Membiarkan Lisan Berjalan Lebih Cepat dari Hati

Gambar
Kamu pernah ngga sih termenung karena berpikir seperti ini “Loh kok kenapa aku jadi cerita ini ke dia? ngapain langsung aku tanggapi pertanyaan dia yang terlalu masuk ke ranah privasiku tadi? atau mungkin dapat omongan dari si C karena si B ceritain apa yang kamu ceritain ke dia? Trus setelahnya jadi overthinking sendiri, rasanya lebih baik di cap bisu dan ngga asik sih daripada merasakan penyesalan ini. Pernah ngga? Kalau pernah, kamu perlu baca tulisan ini, kita pelajari bareng-bareng bagaimana cara mengendalikan lisan yang baik. Baik itu dari pendekatan sains dan yang sesuai dengan islam ajarkan. Lisan Lebih Cepat dari Hati? Apa Maksudnya? Hal ini bisa terjadi ketika tidak adanya jeda antara emosi diri dan ketika akan memberi respon terhadap suatu kejadian, sehingga muncullah ucapan impulsif yang membuat kita secara “tidak sadar” berbicara tanpa disaring terlebih dahulu. Sehingga hasil akhirnya lebih sering terjadi penyesalan.  Tetapi kebanyakan dari kita lupa bahwa lisan adalah...

Menjadi Perempuan Berilmu: Bukan Hanya Pintar, Tapi Menumbuhkan Kehidupan

Gambar
Kemarin baru saja saya mendengarkan sebuah video motivasi dari Ning Khilma Anis beliau adalah penulis novel Hati Suhita yang juga di filmkan. Beliau menjelaskan tentang peran perempuan dalam kehidupan “Mereka perannya seperti sutradara, walaupun dibelakang layar tapi sangatlah dibutuhkan, perempuan sebagai tiang utama kehidupan. Sehingga mereka harus mandiri dan harus cerdas”. Ujiannya perempuan bukan main yaitu perasaannya sendiri, yang mudah baperlah, mudah tersinggung, mudah emosional lalu akibatnya? disekitarnya menjadi tidak tenang dan nyaman berada didekat mereka. Kalau semua yang ada di kepalanya dilepaskan, kesan egois dan jahat itu akan menjadi label dirinya. Kalau mudah nurut dengan perasaannya jadi mudah larutlah, pekerjaan yang harusnya selesai, jadi terlambat selesainya.  Adakah dari kamu yang merasakan ini? atau pernah melihat perempuan yang seperti ini? Saya sangat merasakan ini dulu, entah berapa banyak waktu luang yang saya korbankan untuk perasaan ini, tidak sadar...

Resume Kajian Ust Oemar Mita: Aku dan Kamu Dalam Pusaran Konflik Rumah Tangga

Gambar
Yang benar itu harus baik tapi yang baik juga harus benar dalam kehidupan, semoga Allah senantiasa memberikan kebaikan dan kebenaran dalam perjalanan hidup kita. Aamiin. Di dunia yang semakin berkembang tidak ada imun yang perlu kita tingkatkan kecuali kesyukuran. Seperti halnya yang sudah pernah disyaratkan oleh Nabi bahwa ada tiga fitnah yang datang sebelum fitnah dajjal, ketiganya pasti ada dalam kehidupan manusia, yaitu 1. Fitnatu ahlas yaitu fitnah pertikaian dan perpecahan 2. Fitnatu sarra yaitu fitnah melimpahnya harta dimana-mana 3. Fitnatu duhaima yaitu sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah Di zaman dunia yang seperti ini, fitnah tersebut datang bertubi tubi dalam kehidupan kita, maka tidak ada sikap terbaik yang kita lakukan kecuali bersyukur. Karena sesungguhnya materialisme dan kapitalisme yang sering kita jumpai, menjadikan iman kita turun sehingga yang kita lihat adalah kacamata negatif atau merasa kurang.  Syukur akan menjadikan kita tenang dan bersaha...

Bagaimana Mengelola Energi Emosional Untuk Orang yang Peka? Strategi Melindungi Diri Tanpa Kehilangan Produktivitas

Gambar
Kamu pernah nggak merasakan tubuh yang lelah, padahal aktivitas hariannya biasa saja, nggak terlalu padat atau membebani. Trus tanpa kamu sadari mudah banget nangis, merasa sedih, banyak suara yang terus berputar di kepala. Apalagi kalau habis berinteraksi dengan orang lain “Seharusnya saya ngomongnya begini ke dia atau seharusnya sikap saya nggak perlu langsung begitu tadi.”  Tidak hanya itu bisa saja kamu jadi tempat “pembuangan” emosi orang lain yang lagi kesal sebab si A atau B, trus tanpa ada batasan diri kamu juga jadi terbawa cerita dia dan ikutan kesal. Maksud hati ingin berempati tapi malah jadi kamu yang menyulitkan diri sendiri, karena tanpa sadar “membuang” energi. Atau ketika kamu sendirian, tiba-tiba kamu kepikiran “Kenapa ya dia ngomong begitu tadi? kenapa ya sikapnya dia jadi aneh padahal terakhir ketemu minggu lalu masih biasa aja?” Hal kayak begini tuh nggak bisa kamu diamin aja, kamu nggak bisa menyepelekan hal ini. Mungkin terlihat nggak penting ya, tapi kalau k...

Mengapa Orang yang Merumitkan Kita Justru Membuat Kita Bertumbuh?

Gambar
Pernah nggak kamu merasa ketika berurusan dengan seseorang, ada dari mereka yang membuat kamu seperti “Kok dipersulit sih? padahal tinggal ini dan ini aja loh selesai. Kenapa jadi panjang banget urusannya?”. Haha yap, ini juga pernah saya rasakan dulu, saat menghadapi semester akhir perkuliahan. Karena saya juga termasuk alumni yang lulus di masa pandemi, beginilah cerita saya menyelesaikan perkuliahan.  Sebenarnya memang banyak tipe dosen ya, termasuk ada yang mudah dihubungi dan ada juga dosen yang sulit dihubungi. Sebenarnya di awal mengajukan ingin penelitian tugas akhir saya di ampu oleh beliau juga sudah terlihat. Ketika banyak teman-teman sekelas yang sudah mendatangi dosen yang dituju dan direspon.  Saya salah satu yang pesannya direspon cukup berjeda saat itu. Tapi ya saya nggak mau ambil pusing masalah itu. Besoknya bertemu dikelas, tinggal disampaikan lagi. Maka jadilah saya anak bimbing beliau ini selama mengerjakan tugas akhir.  Pernah ada salah satu teman ya...